ANALISIS
DAMPAK PERTAMBANGAN NIKEL TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI
KECAMATAN LANGGIKIMA KABUPATEN KONAWE UTARA
Oleh
JACOB BREEMER
ABSTRACT.
Yudi Sulistio. G2E1011022 Analisis is Nickel mining Impact to Condition
Of Society Economy Social at Kccamatan Langgikima Konawe's Regency North. Guidanced of : H. Muh. Syarief and Baheri.
Society at working Langgikima district as farmer, fisherman, business man and labour experiences
living shift and work as employee with propertied one is even greater from
previous income. It points out to mark sense changing after available firm
mines nickel but such not all firm give help for changed social society.
This research intent to know and menganalisis is nickel mining impact to
condition of society economy social at Langgikima's district Konawe's Regency
North. Data that is utilized is primary data and secondary data with sample as
much 94 respondents. Analisis who is utilized is sign quiz and descriptive
method.
Acquired observational result that conclusion nickel mining activity at
district Langgikima not impacted to societies social aspect causative education
and society health be still contemn although firm such continually notice and
responsible to environmental aspect especially in the event prevent its
adulterating happening and environment damage. On economic aspect to be gotten
that impacted nickel mining on adsorbed society living as employee of firm and
society income experience step-up up to available nickel mining at Langgikima's
district
ABSTRAK
Yudi Sulistio.
G2E1011022 Analisis Dampak Pertambangan
Nikel Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Langgikima
Kabupaten Konawe Utara. Pembimbing : H. Muh. Syarief dan Baheri.
Masyarakat di
Kecamatan Langgikima yang bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang dan buruh
mengalami pergeseran mata pencaharian dan bekerja sebagai pekerja tambang
dengan pendapatan yang lebih besar dari pendapatan sebelumnya. Hal ini
menunjukkan adanya perubahan sesudah ada perusahaan tambang nikel namun
demikian tidak semua perusahaan memberikan bantuan untuk perubahan sosial
masyarakat.
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui mengetahui dan menganalisis
dampak pertambangan nikel terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di
Kecamatan Langgikima Kabupaten Konawe Utara. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan sampel
sebanyak 94 responden. Analisis yang digunakan adalah uji tanda dan metode
deskriptif.
Hasil penelitian
diperoleh kesimpulan bahwa kegiatan penambangan nikel di Kecamatan Langgikima
tidak berdampak terhadap aspek sosial masyarakat yang menyebabkan pendidikan
dan kesehatan masyarakat masih rendah walaupun demikian perusahaan terus
memperhatikan dan bertanggung jawab terhadap aspek lingkungan terutama dalam
hal mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pada aspek ekonomi
diperoleh bahwa penambangan nikel berdampak pada mata pencaharian masyarakat
yang terserap sebagai karyawan perusahaan dan pendapatan masyarakat mengalami
peningkatan selama ada penambangan nikel di Kecamatan Langgikima
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Kecamatan Langgikima yang terdiri dari 8 (delapan) desa, masing-masing Desa
Sarimukti, Desa Langgikima, Desa, Molore, Desa Lemeruru, Desa Tobimetta, Desa
Pariaman, Desa Polora Indah dan Desa Alenggo memiliki potensi sumber daya nikel
dengan kadar yang diinginkan oleh perusahaan tambang. Dari kedelapan desa
tersebut terdapat beberapa desa yang memiliki sumber daya tambang nikel yaitu
desa Langgikima, Desa Tobimetta, Desa Polora Indah dan Desa Alenggo.
Aktivitas perusahaan pertambangan di wilayah Kecamatan Langgikima
diharapkan juga untuk dapat memberikan kontribusi sosial ekonomi kepada
masyarakat tetapi bukan menerima semua penduduk untuk bekerja di perusahaan,
namun secara partisipatif mendorong pertumbuhan sosial ekonomi di wilayah
Kecamatan Langgikima. Peran perusahaan hingga kini hanya terbatas pada
sumbangan-sumbangan berdasarkan nilai produksi yang diperoleh
2.
Rumusan
Masalah
Bagaimana dampak pertambangan nikel
terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kecamatan Langgikima Kabupaten
Konawe Utara?.
3.
Tujuan
Penelitian
Untuk mengetahui dan
menganalisis dampak pertambangan nikel terhadap kondisi sosial ekonomi
masyarakat di Kecamatan Langgikima Kabupaten Konawe Utara.
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Sumber Daya Alam
Secara
umum sumber daya alam didefinisikan sebagai sumberdaya yang terbentuk karena
proses alamiah seperti tanah, air, udara, ruang, mineral, panas bumi dan lain
sebagainya, sesuatu dapat dikatakan sebagai sumberdaya jika memiliki dua
kriteria, yaitu: (i) harus ada pengetahuan, teknologi atau keterampilan (skil) untuk memanfaatkannya; dan (ii)
harus ada permintaan (demand)
terhadap sumberdaya tersebut
2.
Pengertian Dampak
Pengertian
dampak menurut KBBI adalah benturan, pengaruh yang mendatangkan akibat baik
positif maupun negatif. Pengaruh adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu
(orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.
Pengaruh adalah suatu keadaan dimana ada hubungan timbal balik atau hubungan
sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi.
3.
Definisi Pertambangan
Pertambangan adalah
rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian),
pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian. Sektor pertambangan,
khususnya pertambangan umum, menjadi isu yang menarik khususnya setelah Orde
Baru mulai mengusahakan sektor ini secara gencar. Pada awal Orde Baru,
pemerintahan saat itu memerlukan dana yang besar untuk kegiatan pembangunan,
disatu sisi tabungan pemerintah relatif kecil, sehingga untuk mengatasi
permasalahan tersebut pemerintah mengundang investor-investor asing untuk
membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya di Indonesia.
4.
Definisi Nikel
Nikel adalah salah satu zat padat metalik yang memiliki sifat tahan
karat. Dalam keadan tidak bercampur, wujud nikel adalah sebagai zat yang
lembek, tapi nikel bisa menjadi baja tahan karat (stainless steel) apabila dipadukan dengan krom, besi, dan zat logam
lainnya. Perpaduan nikel, krom dan besi banyak diaplikasikan pada peralatan
dapur (sendok, dan peralatan memasak), ornamen-ornamen rumah dan gedung, serta
komponen industri
5.
Dampak Kegiatan Usaha Pertambangan
Dalam kegiatan usaha pertambangan dampak yang ditimbulkan adalah
dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif seperti penerimaan pendapatan daerah, tenaga
kerja dan pembangunan daerah merupakan dampak yang harus dimaksimalkan,
sedangkan dampak negatif seperti penurunan kualitas lingkungan merupakan dampak
yang harus diminimalkan.
6.
Pengelolaan Sumberdaya Mineral
secara Berkelanjutan
Eksploitasi dari sumberdaya mineral dapat dibuat berlanjut (economically
sustainable), jika dapat membuat sumber permanen dari pemasukan.
Sebagaimana Visi Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral yakni: Terwujudnya sektor energi dan
sumberdaya mineral yang menghasilkan nilai tambah sebagai salah satu sumber
kemakmuran rakyat melalui pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan, adil,
transparan, bertanggungjawab, efisien serta sesuai standar etika yang tinggi.
Namun yang dimaksud berkelanjutan pada pembahasan ini bukanlah upaya untuk
menemukan cadangan baru dari sumberdaya mineral tetapi lebih kepada mencari
sumberdaya pengganti jika sumberdaya mineral benar-benar telah habis
7.
Pengertian kondisi Sosial Ekonomi
Kondisi Sosial ekononomi adalah suatu keadaan atau kedudukan yang
diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam
struktur masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan
kewajiban yang harus dipenuhi oleh si pembawa status. Tingkat sosial merupakan
faktor non ekonomis seperti budaya, pendidikan, umur dan jenis kelamin,
sedangkan tingkat ekonomi seperti pendapatan, jenis pekerjaan, pendidikan dan
investasi
8.
Kerangka Pemikiran
Kecamatan Langgikima merupakan salah
satu Kecamatan di Kabupaten Konawe Utara yang memiliki potensi sumberdaya alam
yang cukup besar baik sumberdaya alam terbarukan (renewable resources)
maupun sumberdaya alam tidak terbarukan (unrenewable resources). Potensi
yang besar tersebut dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Disisi lain sektor pertambangan
dapat menimbulkan dampak sosial ekonomi. Oleh karena itu dalam penelitian ini
diteliti dampak pertambangan nikel terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Untuk menganalisis dampak tersebut digunakan indikator: pendidikan yaitu
fasilitas atau aksebilitas pusat pendidikan, kesehatan yaitu tempat berobat atau aksesibilitas pelayanan
kesehatan responden; mata pencaharian yaitu jenis pekerjaan responden; pendapatan yaitu
besarnya hasil usaha responden; dan lingkungan yaitu kondisi atau keadaan di sekitar wilayah
pertambangan. Indikator-indikator tersebut akan dianalisis secara deskriptif
untuk memperoleh kesimpulan dan selanjutnya menjadi bahan rekomendasi terhadap
kondisi sosial ekonomi masyarakat
METODE PENELITIAN
1.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Kecamatan Langgikima Kabupaten Konawe Utara yang mencakup 8
(delapan) desa/kelurahan. Waktu
pelaksanaan penelitian
akan dilaksanakan setelah pelaksanaan seminar proposal penelitian (Maret
sampai April 2013).
2. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan Langgikima yang bekerja sebagai petani, nelayan,
pedagang dan buruh yang berjumlah 2.335 orang. Teknik pengambilan sampel secara sengaja sebesar 10,1%
dari jumlah populasi dengan menggunakan pendekatan sloving yang diadopsi dari Rianse U dan Abdi,
(2009).dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan : n = Jumlah sampel (responden)
N = Jumlah Populasi
e = Presisi 10,1%
Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini
adalah 50 responden yang dirinci sebagai berikut :
Tabel 1 Jumlah Responden Penelitian di
Masing-Masing Pasar.
|
No.
|
Mata
Pencaharian
|
Responden
|
%
|
|
1
|
Petani
|
38
|
40,30
|
|
2
|
Nelayan
|
10
|
10,32
|
|
3
|
Pedagang
|
14
|
15,46
|
|
4
|
Buruh
|
32
|
33,92
|
|
|
Jumlah Responden
|
94
|
100
|
Sumber : Data Primer Diolah (2013).
Dengan demikian dapat
dikemukakan bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 94
responden yang tersebar di 4 mata pencaharian yang ada di Kecamatan Langgikima.
3.
Variabel Penelitian
a. Aspek sosial yaitu aspek yang
berkaitan dengan kondisi pendidikan kesehatan dan lingkungan Kecamatan
Langgikima.
b. Aspek ekonomi yaitu aspek yang
berkaitan dengan mata pencaharian dan pendapatan masyarakat di Kecamatan
Langgikima
4.
Jenis dan Sumber Data
Untuk
memperoleh data yang aktual dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1.
Survei
yaitu suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan peninjauan lokasi
atau obyek penelitian, dimana teknik survei ini terdiri dari :
a)
Wawancara langsung yaitu suatu
metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada masyarakat (responden) di daerah penelitian.
b)
Kuisioner yaitu suatu metode
pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada responden.
2. Dokumentasi yaitu suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengambil data-data yang telah didokumentasikan oleh instansi terkait yang
relevan dengan penelitian ini
5. Metode
Analisis Data
Untuk mengetahui dampak pertambangan nikel terhadap kondisi sosial
ekonomi masyarakat di Kecamatan Langgikima, maka penulis melakukan pendekatan
melalui analisis Uji Tanda dengan formulasi (Sudrajat, 1985 dalam Arikunto
1998) sebagai berikut:
P(XA>XB) = P(XA>XB)
Dimana :
XA = Pendapatan masyarakat sebelum adanya
pertambangan nikel
XB = Pendapatan masyarakat
setelah adanya pertambangan nikel
Jika hasil uji tanda yang diperoleh negatif (-) maka tidak ada atau
tida terdampak perubahan sesudah adanya pertambangan nikel. Sebaiknya, jikan
hasil uji tanda diperoleh positif (+), maka ada terdapat dampak perubahan
sesudah adanya pertambangan nikel (Arikunto 1998)
6.
Definisi Operasional
Untuk menghindari penafsiran yang keliru dalam penelitian ini, maka
penulis memberikan pengertian dari variabel yang diteliti sebagai berikut:
a)
Aspek sosial yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah segala sesuatu
yang berkaitan dengan kondisi pendidikan, kesehatan dan lingkungan masyarakat.
b)
Aspek ekonomi yang dimaksudkan
dalam penelitian ini adalah segala
sesuatu yang berkaitan dengan mata pencaharian dan tingkat pendapatan
masyarakat.
c)
Petani adalah masyarakat
Kecamatan Langgikima yang bekerja di kebun, dan persawahan diukur dengan satuan
orang
d)
Nelayan adalah masyarakat
Kecamatan Langgikima yang bekerja sebagai penangkap ikan diukur dengan satuan
orang.
e)
Pedagang adalah masyarakat
Kecamatan Langgikima yang bekerja sebagai penjualan barang kebutuhan pokok,
diukur dengan satuan orang.
f)
Buruh adalah masyarakat
Kecamatan Langgikima yang memilih pekerjaan tidak tetap, diukur dengan satuan
orang.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
Hasil
Penelitian
a. Aspek
Sosial
Aspek
sosial yang timbul akibat dampak dari pertambangan nikel terhadap pendidikan di
Kecamatan Langgikima. Bantuan pendidikan berkaitan dengan peningkatan kualitas
sumber daya manusia sehingga bantuan pendidikan menjadi prioritas utama untuk
menunjang kegiatan pertambangan nikel karena sebagian warga bekerja sebagai
buruh tambang
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan ini diperoleh dampak pertambangan nikel terhadap aspek sosial yang
terdiri dari aspek pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Dampak dari perusahaan
terhadap aspek sosial menunjukkan adanya perhatian perusahaan terhadap kondisi
sosial masyarakat yang berada di kawasan pertambangan di Kecamatan Langgikima,
Dampak dari keberadaan pertambangan nikel terhadap aspek sosial penulis sajikan
pada Tabel berikut :
Tabel 20 Dampak Peetambangan Nikel Terhadap Aspek Sosial.
|
No.
|
Persentase Bantuan Perusahaan Terhadap Aspek Sosial
|
Persentase (%)
|
||
|
Indikator
|
Item
|
Ya
|
Tidak
|
|
|
1
|
Pendidikan
|
Aktivitas pendidikan
|
35
|
65
|
|
Jumlah tenaga pendidik
|
13
|
87
|
||
|
Kondisi sekolah
|
24
|
76
|
||
|
Kondisi perlengkapan alat tulis
|
16
|
84
|
||
|
Kondisi buku perpustakaan
|
27
|
73
|
||
|
Bantuan pembangunan sekolah
|
0
|
100
|
||
|
2
|
Kesehatan
|
Pelayanan kesehatan
|
28
|
72
|
|
Pelayanan kesehatan di klinik
|
31
|
69
|
||
|
Penyediaan air bersih
|
33
|
67
|
||
|
Jumlah tenaga kesehatan di desa
|
34
|
66
|
||
|
Pencegahan DBD
|
35
|
65
|
||
|
Pengetasan penyakit menular
|
47
|
53
|
||
|
Pemberian vitamin dan gizi
|
19
|
81
|
||
|
3
|
Lingkungan
|
Gangguan Lingkungan
|
82
|
18
|
|
Pencemaran air
|
71
|
29
|
||
|
Pencemaran udara
|
87
|
13
|
||
|
Kerusakan hutan
|
81
|
19
|
||
|
Kerusakan lingkungan
|
35
|
65
|
||
|
Rata-rata
|
|
39
|
61
|
|
Sumber : Data Primer Diolah (2013)
Tabel 20
memperlihatkan tindakan yang dilakukan perusahaan tambang yang beraktivitas di
Kecamatan Langgikima. Berdasarkan hasil uji tanda diperoleh dampak positif dari
pertambangan nikel antara lain adanya pengendalian gangguan lingkungan,
mengatasi pencemaran air, mengatasi pencemaran udara, mengatasi kerusakan hutan
dan penanggulangan kerusakan lingkungan. Perusahaan kurang memperhatikan aspek
pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa secara
keseluruhan pertambangan nikel tidak berdampak terhadap aspek sosial.
b. Aspek
Ekonomi.
Dalam
penelitian ini yang dikaji adalah dampak pertambangan nikel terhadap aspek
ekonomi petani, nelayan, pedagang dan buruh. Pendapatan yang diterima petani, nelayan, pedagang dan
buruh sebelum adanya pertambangan nikel dapat disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 21 Pendapatan Rata-Rata Berdasarkan Mata Pencaharian
|
No
|
Mata Pencaharian
|
Responden (Orang)
|
Pendapatan Rata-Rata Sebelum ada Pertambangan Nikel (Rp)
|
|
1
|
Petani
|
51
|
1.035.294
|
|
2
|
Nelayan
|
14
|
527.143
|
|
3
|
Pedagang
|
13
|
746.154
|
|
4
|
Buruh
|
6
|
700.000
|
Sumber : Data Terlampir
Tabel 21 menunjukkan adanya tingkat pendapatan yang diperoleh petani,
nelayan, pedagang dan buruh per bulan sebagai hasil dari aktivitas yang mereka
lakukan selama belum ada pertambangan nikel di Kecamatan Langgikima. pendapatan
masyarakat adalah bahwa warga yang bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang
dan buruh memiliki pendapatan rata-rata yang kurang dari Rp. 1.500.000/bulan.
Tabel 18. Kondisi Mata Pencagarian Masyara di Kecamatan
Langgikima
|
No.
|
Keterangan
|
Sebelum Ada Pertambangan Nikel
|
Sesudah Ada Pertambangan Nikel
|
Menjadi Pekerja Tambang
|
|
1.
|
Bekerja
sebagai petani
|
38
|
23
|
15
|
|
2.
|
Bekerja sebagai nelayan
|
10
|
4
|
6
|
|
3.
|
Bekerja
sebagai pedagang
|
14
|
10
|
4
|
|
4.
|
Bekerja
sebagai buruh
|
32
|
-
|
32
|
|
Jumlah
|
94
|
37
|
57
|
Sumber : Data Primer Diolah (2013)
Data pada Tabel 18 memperlihatkan
mata pencaharian yang ada pada saat sebelum dan sesudah ada pertambangan
nikel di Kecamatan Langgikima. Responden dalam penelitian ini sebelum ada
tambang memiliki pekerjaan sebagai petani sebanyak 38 orang, nelayan sebanyak
10 orang, pedaganga sebanyak 14 orang dan buruh sebanyak 32 orang, sesudah ada
pertambangan nikel, 15 orang petani beralih menjadi pekerja tambang, 6 orang
nelayan beralik menjadi pekerja tambang, 4 orang pedagang beralih menjadi
pekerja tambang dan buruh yang menjadi responden dalam penelitian secara
keseluruhan beralih bekerja pada pertambangan nikel. Hal ini mengindikasikan
bahwa sesudah ada pertambangan nikel, sebagian warga beralih menjadi pekerja
tambang.
Untuk mengetahui dampak pertambangan nikel terhadap mata pencaharian,
penulis menggunakan kuisioner yang diberikan kepada responden dengan latar
belakang pekerjaan yang berbeda-beda seperti petani, nelayan, pedagang dan
buruh. Tanggapan responden mengenai terbukanya lapangan kerja Penulis sajikan
pada Tabel berikut :
Tabel 22. Tanggapan Responden Tentang Pertambangan Nikel
Terhadap Mata Pencaharian.
|
No.
|
Pernyataan
|
Jawaban
|
Jml
|
%
|
|||
|
Ada
|
Tidak Ada
|
||||||
|
R
|
%
|
R
|
%
|
||||
|
1.
|
Adakag Dampak Pertambangan Nikel
Terhadap Mata pencaharian masyarakat
|
76
|
81
|
18
|
19
|
94
|
100
|
|
2.
|
Adakah dampak Pertambangan Nikel Terhadap aktivitas
masyarakat
|
79
|
84
|
15
|
16
|
94
|
100
|
|
3.
|
Adaka lahan
garapan petani yang bekurang
|
82
|
87
|
12
|
13
|
94
|
100
|
|
4.
|
Adanya mata pencaharian yang beralih
menjadi karyawan tambang
|
12
|
13
|
82
|
87
|
94
|
100
|
Sumber : Data Primer Diolah (2013)
Tabel 22 menunjukkan tanggapan responden terhadap mata mata pencaharian. Pada pernyataan tentang
Adanya dampak pertambangan nikel terhadap mata pendaharian, sebanyak 76 orang (81%) responden menyatakan ada, dampak tersebut pada petani, harga jual hasil
panen meningkat dari harga semula, nelayan, hasil tangkapannya dijual langsung
ke perusahaan dengan harga yang relatif mahal, pedagang menaikan harga jual
barang dagangannya dan buruh mendapat upah kerja yang meningkat, sedangkan sebanyak 18 orang (65%) responden mengatakan tidak ada
dampak kegiatan mereka berlangsung seperti
kebiasaan dan tidak mengubah harga jual untuk memperoleh pendapatan yang lebih
besar. Hal ini mengindikasikan bahwa pertambangan nikel mengakibatkan perubahan
harga dan daya beli masyarakat di Kecamatan Langgikima.
Pernyataan tentang adanya dampak pertambangan nikel terhadap aktivasi
masyarakat, sebanyak 79 orang (84%) responden menyatakan
ada, dampak tersebut menyebabkan sebagian
warga beralih dari pekerjaan sebagai petani, nelayan, pedagang dan buruh
menjadi pekerja tambang nikel dengan tujuan memperoleh pendapatan yang besar.. sedangkan
sebanyak 15 orang (16%) responden mengatakan tidak ada dampak
karena sebagian warga tetap berada pada pekerjaannya yang dilakukan sejak awal,
baik sebagai petani, nelayan, pedagang, maupun buruh. Namun demikian dapat dikemukakan bahwa secara
keseluruhan pertambangan nikel berdampak terhadap aktivitas masyarakat yang
menyebabkan adanya pergeseran lapangan kerja.
Pada pernyataan ketiga, tentang adakah lahan garapan yang berkurang.
sebanyak 82 orang (87%) responden menyatakan
ada lahan garapan petani yang berkurang
karena dijual untuk perusahaan pertambangan nikel. Pernjualan ini dipicu oleh
daya beli perusahaan terhadap lahan masyarakat dan ketidakmampuan masyarakat
dalam mengelola lahan pertanian tersebut sehingga lahan garapan petani menjadi
berkurang., sedangkan sebanyak 12 orang (13%) responden mengatakan
tidak ada lahan yang berkurang. Hal
ini terjadi pada kawasan yang bebas tambang nikel dan tidak memiliki nilai jual
sehingga luas lahan tetap utuh tetapi tidak dikelola dengan baik sehingga hasil
panennya tidak memadai.
Pada
pernyataan keempat tentang adanya mata pencaharian yang beralik menjadi
karyawan perusahaan. sebanyak 12 orang (13%) responden menyatakan
ada yang beralih untuk memperoleh pendapatan
yang besar sehingga membuat perubahan pada tingkat pendapatan sebelum dan
sesudah ada pertambangan nikel.. sedangkan
sebanyak 82 orang (87%) responden mengatakan tidak ada mata
pencaharian yang beralih tetap mereka bekerja sebagai karyawan kontrak pada
perusahaan pertambangan nikel.
Paradigma
pergeseran dari pekerjaan awal ke pekerjaan sebagai pekerja tambang membuat
perubahan pada struktur pendapatan yang berdampak pada kondisi ekonomi keluarga
dan masyarakat pada umunya. Selain itu dengan adanya pertambangan nikel yang
dilakukan perusahaan-perusahaan pertambangan memberikan pengaruh terhadap
hilangnya mata pencaharian sebagia warga, arti mereka tidak bekerja lagi sebagai
petani, nelayan, pedagang atau buruh tetapi mereka telah bekerja sebagai
karyawan. Pertambangan nikel yang
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan membutuhkan tenaga kerja dan aktivitas
mereka dikendalikan oleh perusahaan berdasarkan jam kerja sehingga banyak di
antara mereka yang kehilangan pekerjaan utamanya dan beralih menjadi pekerja
tambang nikel.
Pendapatan
yang telah diterima oleh warga sesudah bergeser dari petani, nelayan, pedagang
dan buruh menjadi karyawan tambang dengan perubahan pendapatan yang disajikan
pada Tabel berikut :
Tabel 18 Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Aspek Ekonomi.
|
No
|
Mata Pencaharian
|
Pendapatan Masyarakat
|
Selisih (Rp)
|
Tanda
|
|
|
Sebelum
|
Setelah
|
||||
|
1
|
Petani
|
1.035.294
|
3.139.216
|
2.103.922
|
+
|
|
2
|
Nelayan
|
527.143
|
3.000.000
|
2.472.857
|
+
|
|
3
|
Pedagang
|
746.154
|
3.230.769
|
2.484.615
|
+
|
|
4
|
Buruh
|
700.000
|
3.166.667
|
2.466.667
|
+
|
Sumber :
Data Primer diolah (2013)
Tabel 18
memperlihatkan perubahan pendapatan yang terjadi akibat adanya pergeseran mata
pencaharian dan pada aspek ekonomi nampak jelas bahwa terdapat dampak dari pertambangan
nikel terhadap aspek ekonomi terutama pada mata pencaharian dan pendapatan
warga yang beralih dari pekerjaan utama seperti petani, nelayan, pedagang dan
buruh menjadi karyawan pada pertambangan nikel.
2.
Pembahasan
Hasil
penelitian yang dilakukan pada Kecamatan Langgikima tentang dampak pertambangan
nikel terhadap sosial ekonomi masyarakat diperoleh beberapa temuan yang antara
lain bahwa perusahaan-perusahaan tambang yang ada di Kecamatan Langgikima
kurang memperhatikan aspek sosial masyarakat. Tidak ada bantuan pendidikan,
pembangunan gedung sekolah, bantuan perlengkapan alat tulis, penyediaan tenaga
pengajar, dan tidak ada pelaksanaan program pelatihan kepada masyarakat yang
menunjukkan bahwa tidak ada dampak pertambangan nikel terhadap aspek pendidikan
di Kecamatan Langgikima.
Pada
aspek kesehatan, perusahaan tidak memberikan bantuan secara menyeluruh dan
hanya kepada beberapa desa yang berada kawasan pertambangan sedangkan desa lain
tidak memperoleh akses pelayanan kesehatan.
Hasil studi lapangan juga menemukan bahwa perusahaan memberikan bantuan
hanya kepada warga yang bekerja kepada perusahaan saja sedangkan warga lainnya
tidak memperoleh kesempatan yang sama bahkan mereka mengalami kesulitan dalam
mengakses pelaksanan kesehatan. Dengan demikian diperoleh bahwa pertambangan
nikel tidak berdampak terhadap aspek kesehatan di Kecamatan Langgikima.
Pada
aspek lingkungan, perusahaan lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan serta kelancaran kegiatan usaha akan tetapi
perusahaan tidak melakukan penanggulangan kerusakan lingkungan, Hal ini
diindikasikan bahwa perusahaan menyerahkan pengelolaan lingkungan kepada
pemerintah melalui izin AMDAL yang mereka penuhi sehingga terkesan bahwa
analisis mengenai dampak lingkungan diserahkan kepada pemerintah. Namun
demikian hal ini secara keseluruhan diperoleh bahwa dampak lingkungan dan
kerusakan hutan serta pencemaran yang terjadi akibat adanya aktivitas
pertambangan nikel di Kecamatan Langgikima menjadi tanggung jawab perusahaan
dan ini berdampak positif.
Hasil
studi terhadap aspek ekonomi diperoleh bahwa pendapatan masyarakat sebelum
adanya pertambangan nikel, bersumber dari kegiatan bertani, nelayan, berdagang
dan menjadi buruh diketahui bahwa dari 51 orang responden dengan mata
pencaharian sebagai petani memiliki pendapatan rata-rata sebesar Rp.1.035.294
per musim panen. Mereka yang bekerja sebagai nelayan sebanyak 14 orang memiliki
pendapatan rata-rata sebesar Rp. 527.143 per hari melaut, sedangkan responden yang bekerja
sebagai pedagang sebanyak 13 orang memiliki pendapatan rata-rata sebesar
Rp.746.154 per bulan dan mereka yang bekerja sebagai buruh sebanyak 6 orang
memiliki pendapatan rata-rata mencapai Rp.700.000 per bulan. Hal tersebut
menggambarkan bahwa pendapatan masyarakat sebelum adanya tambang di Kecamatan
Langgikima masih berada antara Rp.500.000 – 1.100.000.
Pendapatan
masyarakat dan mata pencaharian yang telah dilakukan bertahun-tahun bergeser
kepada pekerjaan sebagai karyawan pada perusahaan tambang. Sebagian masyarakat
meninggalkan lahan garapan, kegiatan nelayan, kegiatan dagang dan buruh kasar
untuk menjadi karyawan pada perusahaan tambang. Hasil studi diperoleh bahwa
terjadi pergeseran mata pencaharian dalam kehidupan warga masyarakat di
Kecamatan Langgikima. Namun masih ada warga yang tidak mau kehilangan
pekerjaannya yang telah dilakukannya selama ini.
Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan pendapatan
antara pendapatan pada saat belum ada pertambangan nikel dan sesudah ada
pertambangan nikel. Hal ini sekaligus menunjukkn bahwa pertambangan nikel hanya
mampu memberikan perubahan pada peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga
kerja tetapi tidak berdampak terhadap aspek sosial masyarakat karena perusahaan
yang melakukan kegiatan tambang adalah perusahaan baru dan lebih berorientasi
kepada keuntungan usaha tetapi belum dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan
kesehatan masyarakat di wilayah pertambangan.
KESIMPULAN
Berdasakan hasil penelitian dan pembahasan tentang
dampak pertambangan nikel terhadap sosial ekonomi masyarakat di Kecamatan
Langgikima, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pertambangan nikel di
Kecamatan Langgikima tidak berdampak terhadap kondisi pendidikan dan kesehatan
masyarakat dan hanya berdampak pada kondisi lingkungan. Selain itu setelah ada
pertambangan nikel di Kecamatan Langgikima, kondisi ekonomi masyarakat
mengalami perubahan mata pencaharian menjadi pekerja tambang nikel yang
ditandai dengan adanya peningkatan pendapatan masyarakat.
SARAN
1. Untuk meningkatkan kondisi sosial masyarakat di
Kecamatan Langgikima, maka masyarakat harus berperan serta dalam meningkatkan
kualitas pendidikan, kesehatan dan pelestarian lingkungan melalui kerja sama
dengan perusahaan-perusahaan tambang yang ada di wilayah Kecamatan Langgikima
guna meningkatkan produktivitas masyarakat.
2. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka
masyarakat harus dapat menentukan lapangan kerja dengan penghasilan yang tetap
sehingga nantinya akan mewujudkan masyarakat yang makmur pada masa mendatang
3. Untuk menyediakan lapangan kerja dan penyerapan
tenaga kerja, maka perlu adanya kerja sama antara pihak perusahaan dengan
pemerintah Kecamatan Langgikima untuk dapat menekan tingkat pengangguran dan
mengentaskan kemiskinan di pedesaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Affendi, 1999. Pengembangan Agropolitan ; Konsep dan Implementasinya di Indonesia,
Pusat Studi Pembanguna, Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.
Arifin, 2005. Eksplorasi Pertambangan Nikel di Indonesia. IPB-Press. Bandung
Arikunto. 1998. Prosedur
penelitian, suatu pendekatan praktek. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Arman Pasaribu, 2011. Analisis Dampak Pertambangan Emas Terhadap
Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan.
Tesis Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Medan.
Andi Fardani Dampak Sosial Keberadaan PT. Vale Indonesia
Tbk terhadap Kehidupan Masyarakat (Studi Kasus Sorowako Kecamatan Nuha
Kabupaten Luwu Timur). Tesis. Unhas.
Makassar.
Badan Pusat Statistik. 2011. Provinsi Sulawesi Tenggara dalam Angka Tahun
2011. Kendari.
Bintarto, R. 1977. Suatu Pengantar Geografi Desa. Yogyakarta : U.P.Spring.
Boediono. 1992. Ekonomi
Mikro, Seri Hinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi. Yogyakarta : BPFE-Universitas
Gajah Mada.
Budimanta, 2007. Ekonomi Pembangunan. Erlangga. Jakarta
Fandeli, C. 1992. Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Prinsip Dasar dan Penerapannya Dalam Pembangunan.
Penerbit Liberty. Bogor.
Fauzi, A. 2006. Ekonomi
sumber daya alam dan lingkungan. Teori dan aplikasi. Jakarta: PT. Gramedia
Utama Pustaka.
Hotelling, H. 1931. The economics of exhaustible resources. Journal of political Economy (39)
: 137-175).
Ibrahim, 2010. Pengantar Ilmu Psikologi Keluarga. Liberty.
Yogyakarta.
Jhingan, M.L. 1998. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : Rajawali Press.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2010.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1996.
Kartasaputera, 1992. Ekonomi Pembangunan. Ghalia Ilmu. Jakarta
Kavie. 2009. Pengertian Pendidikan, (Internet).
(http://kavie design.indonesianforum.net.htm).
Koentjaradiningrat, 2000. Pembangunan Masyarakat Tinjauan Aspek : Sosiologi, Ekonomi, dan
Perencanaan, Liberty, Yogyakarta.
Komaruddin. 1996. Ensiklopedia
Manajemen. Jakarta : Balai Pustaka
Lauer, R. H. 1993, Perspektif
tentang Perubahan Sosial, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Malanuang, Lukman. 2002. Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial Tambang
Emas dan Tembaga bagi Masyarakat komunal dan Pembangunan Wilayah Propinsi NTB
(Studi Kasus Proyek Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara. Sekolah
Pascasarjana IPB. Bogor.
Marsuki, 2009. Ekonomi Sumber Daya Alam. Bumi Aksara.
Jakarta
Mulyanto Sumardi, 1985. Pengantar
Ilmu Ekonomi. Gajah Mada Press.
Yogyakarta.
Pelly, U. 1991. Dampak Kegiatan Pembangunan Pada Sosial
Budaya (Sebuah Kerangka Analisis Dampak Lingkungan Sosial). Kursus-Kursus
Dasar Amdal X. USU. Medan.
Rosnawati, 2011. Dampak Pertambangan Emas Terhadap Tingkat
Pendapatan Masyarakat di Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana. Tesis
Pascasarjana Universitas Haluoleo. Kendari
Sinaga, S. 2003. Perilaku Masyarakat Petani Terhadap Eksploitasi Lapisan Tanah Atas Pada Lantai
Hutan dan Kerugian Fisik yang diakibatkannya di Kawasan Hutan Kabupaten Karo.
Tesis Program Pascasarjana USU. Medan.
Singarimbun, 1987. Pengantar
Ilmu Sosiologi. Alfabeta. Bandung
Soemarwoto, O . 2005. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Gadjah Mada
University
Press. Yogyakarta
Sukirno, 1985. Ekonomi Makro. BPFE-UGM.Yogyakarta.
Sumardi, M dan H. D. Evers. 1985. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. CV.
Rajawali. Jakarta.
Suriansyah. 2009. Dampak Pertambangan Terhadap Fungsi Ekonomi
Lingkungan dan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus Pertambangan Bijih Besi PT
Juya Aceh Mining di Kabupaten Aceh Barat Daya Propinsi NAD).. Tesis.
Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor.
Susanto.
1984. Sosiologi Pembangunan. Jakarta : Balai Pustaka.
Syahrini, A. 1999. Pembangunan perumahan dan permukiman berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan. USU Press. Medan.
Syani. 1997. Sosiologi dan Perubahan Masyarakat, Suatu
Interpretasi Kearah Realita Sosial. Pustaka Jaya, Jakarta
Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Pengusahaan Pertambangan.
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang
Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Van Den Ban dan Hawkins, 1999. Human
Resource Develompment. Perinhall Harvant. New York.
Wikipedia
Indonesia. 2011. Kesehatan. (Internet). http://id.wikipedia.org.
Winardi. 1992. Ilmu Ekonomi.
Bandung : Tarsito.
Yakin
A, 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam. Bumi Aksara.
Jakarta.
Yasin, 2000. Pembangunan
Ekonomi. Murai Kencana. Jakarta
Yudhistira, 2008. Dampak Kerusakan
Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Daerah Kawasan Gunung Merapi
(Studi Kasus Di Desa Keningar Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah). Tesis. UGM. Yogyakarta.
Yusnita, I dan A. Sudrajat. 2003.
Membentuk pola perilaku manusia
pembangunan. IPB Press. Bogor.